Selasa, 07 April 2015

DASAR-DASAR REPRODUKSI MAKHLUK HIDUP


A.  Reproduksi Sel


Pertumbuhan dan perkembangan organisme tergantung pada kecepatan pertambahan dan pembesaran dari sel- sel individu itu sendiri. Perkembangan dari organisme bersel banyak (multiselular) dimulai dari zigot uniselular dicapai melalui pembelahan sel, pertumbuhan dan diferensiasi. Reprodusksi seksual dan aseksual dari suatu organisme juga tergantung pada pembelahan sel.

Pembelahan sel dapat dicapai melalui aktivitas yang integral dari pembelahan inti (karyokenesis) dan pembelah sitoplasma (sitokenesis). Biasanya pembelahan inti diikuti oleh pembelahan sitoplasma, tetapi kadang- kadang pembelahan inti tidak dikuti oleh pembelahan sitoplasama. Hal ini biasanya terjadi pada sel-sel berinti banyak (multinukleat).

Di dalam tumbuhan dan binatang diketahui ada tiga tipe pembelahan sel, yaitu:

  1. Pembelahan secara langsung atau amitosis,
  2. Pembelahan tidak langsung atau mitosis, dan
  3. Pembelahan reduksi atau meiosis.

 

1.    Amitosis


Amitosis atau pembelahan secara langsung merupakan reproduksi vegetatif (aseksual= tak kawin)  yang umumnya terjadi pada organisme bersel satu seperti bakteri dan protozoa. Selain itu juga merupakan cara perbanyakan diri pada beberapa binatang bertulang belakang (vertebrata). Dalam pembelahan tipe ini terjadi di penyempitan bagian tengah inti yang diikuti oleh sitoplasmanya. Selama amitosis, mula- mula inti memanjang kemudian membentuk seperti dumbel (dump- bell) yang akhirnya inti tersebut membelah menjadi dua bagian. Pembelahan inti diikuti oleh pembelahan sitoplasma.

 

2.    Mitosis


Sudah dikemukakan dalam teori sel bahwa sel hanya akan ada dari sel-sel yang telah ada sebelumnya. Pembelahan ini meliputi pembelahan inti dan pembelahan sitoplasmanya. Dalam mitosis, penekanan pembahasan diutamakan pada tingkah laku inti selamanya terjadinya proses pembelahan. Sel anak yang dihasilkan di dalam mitosis mempunyai bentuk, ukuran dan struktur yang sama, bahkan lebih jauh lagi bahwa sel anak yang dihasilkan memiliki sifaat-sifat yang sama dengan sel induknya. Secara garis besar, sel-sel suatu individu yang melakukan pembelahan akan mengalami 2 fase utama, yaitu interfase dan fase mitosis.

3.    Interfase


Fase istirahat antara 2 buah pembelahan sel disebut fase intermitosis atau interfase. Dalam interfase tidak terjadi pembelahan kromosom atau sitoplasma. Inti dan sitoplasma tetap melakukan aktivitas metabolisme secara aktif sehingga terjadi penambahan volume inti maupun sitoplasma. Interfase merupakan fase yang terjadi paling lama dalam siklus mitosis.

Dengan adanya aktivitas metabolisme pada interfase ini maka penamaan fase istirahat (interfase) pada siklus mitosis sering dikatakan kurang tepat. Jadi, penamaan interfase ini hanyalah ditunjukkan pada inti yang kromosomnya tidak melakukan aktivitas pembelahan.

Fase Mitosis

Dalam mitosis terdapat beberapa fase atau tingkat mitosis sebagai berikut.

  1. Profase, Peristiwa yang terjadi ketika profase adalah:

  1. Benang- benang kromatin memendek dan menebal yang selanjutnya disebut kromosom.
  2. Nukleous (anak inti) melebur.
  3. Tiap- tiap sentriol memisah ke arah kutub yang berlawanan dan benang- benang gelendong halus mulai terbentuk diantara kedua sentriol tersebut.
  4. Dinding inti mulai melebur, tetapi masih belum hilang sama sekali.
  5. Kromosom menduplikasi diri dan disebut kromatid.

  1. Metafase, Fase ini diawali dengan pro metafase yang memiliki ciri- ciri sebagai berikut:

  1. Dinding inti telah benar- benar melebur dan benang- benang gelendong meluas dari satu kutub ke kutub lainnya.
  2. Terdapat suatu daerah yang nyata di bagian tengah dan selanjutnya disebut bidang pembelahan atau ekuator.
  3. Kromatid bergerak menuju bidang pembelahan.

Pada metafasenya sendiri terjadi peristiwa- peristiwa sebagai berikut:

  1. Tiap- tiap kromatid telah samapi pada bidang pembelahan dan saling menempel oleh suatu bagian yang disebut sentromer pada benang- benang kromosom dari gelendong.
  2. Terbentuk benang- benang antara kromatid yang disebut benang- benang interkromosom atau benang- benang interzonal.

  1. Anafase
    Fase ini dimulai dengan pemisahan kromatid pada sentromernya. Peristiwa yang terjadi pada metafase adalah:

  1. Sentromer dari masing- masing kromatid membelah menjadi dua.
  2. Kromatid dari bidang pembelahan memisah dan membentuk lagi dua buah kromosom.
  3. Kromosom bergerak menuju kutub yang berlawanan.

Fase Meiosis

Istilah Meiosis (Yunani, meioum= mengurangi) dikemukakan oleh J.B Farmer pada tahun 1905. Pembelahan reduksi ini merupakan proses yang sangat penting bagi suatu organisme karena dihasilkannya gamet haploid pada waktu terjadinya pembelahan sel- sel kelamin.

Dengan adanya reduksi (pengurangan) jumlah kromosom pada sel- sel benih (germ cell) yang diploid  (2n) menjadi sel kelamin (gamet) haploid (n), maka pembelahan reduksi ini menjaga kestabilan jumlah kromosom dalam spesies. Dengan demikian pembelahan reduksi merupakan pergiliran dari keturunan haploid dan keturunan diploid pada tumbuhan dan binatang.

Dalam kata lain pembelahan reduksi menjaga keteraturan siklus reproduksi pada reproduksi seksual suatu organisme. Sebagi contoh siklus reproduksi tumbuhan lumut, meliputi keturunan haploid yang lama dan keturunan diploid yang sebentar. Zigot dari tumbuhan lumut ini akan mengalami pembelahan reduksi pada waktu pembentukan spora.

Dalam proses pembelahan reduksi, kromosom membelah atau menduplikasi satu kali, sedangkan inti dan sitoplasmanya membelah dua kali. Oleh karena itu, pada pembelahan reduksi dari satu sel akan dihasilkan empat buah sel yang haploid.

B.  Reproduksi Tumbuhan


Reproduksi atau perkembangbiakan adalah proses yang dilakukan oleh makhluk hidup dengan cara memperbanyak atau menduplikasikan jenisnya. Reproduksi dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu reproduksi vegetatif (aseksual= tidak kawin) dan reproduksi generatif (seksual= kawin).

1.    Reproduksi Vegetatif


Perkembangan suatu individu tanpa melalui persatuan sel kelamin (gamet) jantan dan sel kelamin betina disebut reproduksi vegetatif. Reproduksi vegetatif ini biasanya meliputi pembelahan amitosis atau mitosis sel- sel tubuhnya (somatik). Oleh karena itu dikenal pula sebagai pembelahan somatogenetik atau pembelahan blastogenetik. Reproduksi vegetatif biasanya dilakukan oleh tumbuhan dan binatang tingkat rendah. Reproduksi vegetatif ini dapat dibedakan menjadi beberapa tipe, yaitu pembelahan, pembentukan tunas, pembentukan gemule dan regenerasi.

  1. Pembelahan
    Pembelahan merupakan reproduksi vegetatif yang umumnya terjadi pada golongan protozoa dan beberapa jenis metazoa. Pada pembelahan ini, inti dan isi sitoplasma dari sel yang membelah akan melakukan penyempitan yang akhirnya membelah sempurna menjadi individu anak yang berukuran lebih kecl.
    Pembelahan sendiri dapat dibedakan menjadi beberapa tipe berikut:

  1. Pembelahan menjadi dua (Binary Fassion)
    Tubuh suatu organisme akan menyempit dan membelah pada suatu tempat (biasanya di bagian tengah) menghasilkan dua buah individu anak yang sama dan identik. Pembelahn jenis ini banyak ditemukan pada golongan protozoa, tetapi juga kadang- kadang didapatkan pada metozoa tingkat rendah.
    Berdasarkan keadaan cara membelahnya, binary fassion dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu:

  1. Pembelahan sederhana atau ortodoks. Pembelahan ini terjadi pada organisme yang tubuhnya tidak teratur, misalnya Amoeba sp.
  2. Pembelahan secara melintang (transversal). Pembelahan jenis ini dilakukan oleh beberapa protozoa seperti Paramecium dan beberapa metozoa seperti coelentrata tertentu, Tubellaria dan Annelida. Pada pembelahan ini, arah pembelahannya selalu melintang terhadap sumbu memanjang dari tubuh organisme.
  3. Pembelahan secara membujur/ longitudinal. Pembelahan jenis ini terjadi pada Vorticella dan Euglena. Pada pembelahan ini inti dan sitoplasma membelah kea rah membujur.
  4. Pembelahan secara miring. Pembelahan ini terjadi pada kebanyakan Dinoflagellata. pada tipe ini sel atau tubuh suatu organisme membelah melalui pembelahan secara melintang.
  5. Strobilasi. Pada metazoa tertentu, tipe khusus dari pembelahan melintangnya dikenal sebagai strobilasi. Pada prosese srobilasi ini, beberapa pembelahan melintang terjadi secara serentak (simultan) dan menghasilkan sejumlah individu. Individu- individu yang dihasilkan tersebut sering tidak terpisah dari induknya sehingga merupakan kumpulan individu yang saling menempel. Misalnya pada acing pita, Aurellia dan Polychaeeta tertentu.
  6. Pembelahan berkali- kali (multiple fission). Pafa pembelahan tipe ini, inti sel membelah sangat cepat menjadi beberapa buah inti. Tiap- tiap anak inti selanjutnya dikelilingi oleh sitoplasma untuk selanjutnya melakukan reproduksi vegetative, misalnya Schyzogony pada Plasmodium, pembentukan spora, dll. Pembelahan ini terjadi pada kebanyakan algae (ganggang), jamur dan beberapa protozoa seperti Amoeba sp.

 

  1. Pembentukan tunas atau gemma
    Pada hewan bersel banyak (multiselular) seperti Hydra dan Tunicata tertentu, tubuhnya dapat menghasilkan tubuh baru yang kecil yang disebut tunas (bud). Proses perkembangan dari tunas sampai menjadi dewasa disebut blastogenesis. Perkembangan tubuh individu baru tersebut mengambil makanan dari tubuh induknya, dan setelah cukup matang dia akan melepaskan diri dari tubuh induknya dan tumbuh menjadi individu baru. Pada tumbuhan, pembentukan gemma dapat saudara temukan pada Marchantia yang termasuk ke dalam lumut hati.
  2. Pembentukan gemmule
    Pada metozoa tertentu reproduksi vegetatif dilakukan oleh bagian tubuh vegetatif khusus yang disebut gemmule dan statoblast. Gemmule terdapat pada sponge air tawar dan statoblast terdapat pada bryozoa.
    Gemmule dan statoblast disusun ileh  sekelompok yang berisi cadangan makanan. Sel- sel ini pada gemmule dilindungi atau ditutupi oleh duri bentuk monakson dan padastatoblast ditutupi oleh kitin. Bila tubuh induknya mengalami kerusakan maka gemmule atau statoblast dapat bebas atau keluar dari tubuh induknya dan tumbuh menjadi individu baru pada kndisi lingkungan yang cocok.
  3. Regenerasi
    Regenerasi adalah proses penumbuhan kembali bagian- bagian tubuh yang rusak atau hilang. Reproduksi  melalui regenerasi ini terdapat pada beberapa protozoa, porifera (sponge), coelentrata, planaria dan enchinodermata.
     

2.    Reproduksi generatif


Pada reproduksi generatif perkembangan individu baru tejadi melalui persatuan sel- sel kelamin (gamet) jantan dan betina. Reproduksi generatif ini merupakan tipe reproduksi yang paling umum dilakukan oleh tumbuhan dan binatang. Beberapa tipe reproduksi generatif diantaranya adalah sebaggai berikut.

 

  1. Singami (syngami)
    Singami merupakan tipe yang paling umum dalam tumbuhan dan binatang. Dalam singami (Yunani, syn= bersama- sama dan gam= kawin) persatuan antara dua buah gamet terjadi secara sempurna dan permanen.
  2. Autogami
    Dalam autogami (Yunani, auto= seendiri, gam= kawin) gamet jantan dan gamet betina dihasilkan oleh organisme atau sel yang sama. Untuk selanjutnya kedua gamet tersebut bersatu membentuk zigot, misalnya pada Paramecium aurelia.
  3. Eksogami
    Dalam eksogami (Yunani, Exo= luar, gam= kawin) gamet jantan dan gamet betina dihasilkan oleh induk yang berbeda. Eksogami ini merupakan tipe yang paling umum terdapat pada tumbuhan dan binatang.
  4. Hologami
    Terjadi pada organisme tingkat rendah, kadang- kadang seluruh organisme yang telah masak bertindak sebagai gamet. Persatuan dari individu yang berfungsi sebagai gamet ini dikenal sebagai hologami.
  5. Isogami
    Dalam isogami (Yunani, Is= sama, gam= kawin) gamet yang bersatu mempunyai bentuk, struktur dan fisiologi yang sama mislanya pada Chlamydomonas dan Ulothrix.
  6. Anisogami
    Beberapa organisme menghasilkan dua buah tipe gamet yang berbeda. Kedua tipe gamet tersebut berbeda antara satu sama lain di dalam bentuk, ukuran dan tngkah lakunya. Gamet jantan kecil dan dapat bergerak disebut mikrogamet. Gamet betina pasif dan mempunyai ukuran lebih besar dibandingkan dengan gamet jantannya disebut makrogamet. Persatuan dari kedua tipe gamet itulah yang disebut anisogami atau heterogami.
  7. Konyugasi
    Konyugasi merupakan perkawinan antara dua buah individu sejenis yang belum dapat dibedakan jantan dan betinanya. Individu yang melakukan konyugasi tersebut dinamakan konyugan. Selama melakukan konyugasi terjadi pertumbuhan materi- materi inti, untuk selanjutnya kedua individu tersebut melakukan pemisahan kembali dan membelah secara mitosis, misalnya pada Paramecium sp. Akan tetapi konyugasi yang terjadi para Spirogyra sp, salah satu isi sel dari Spirogyra tersebut berpindah seluruhnya pada sel Spirogyra yang lainnya melalui saluran yang dibuat oleh kedua sel Spirogyra tersebut.
  8. Partenogenesis
    Parterogenesis merupakan tipe khusus dari reproduksi generatif. Dalam partenogenesis, sel telur dari suatu organisme berkembang menjadi individu muda tanpa dibuahi oleh sperma. Partenogenesis terjadi pada insekta (serangga tertentu misalnya ktu daun dan lebah, dan Rotifera).
  9. Automiksis
    Automiksis adalah bila inti gamet dari sel yang sama bersatu membentuk individu yang baru.
     

C.  Reproduksi Hewan


Proses pembentukan sel- sel kelamin atau gamet disebut gametogenesis. Gametogenesis pada mamalia khususnya manusia meliputi pembentukan sel- sel sperma yang disebut spermatogenesis, dan pembentukan sel- sel telur atau ovum yang disebut oogenesis.

Dalam perkembangannya, sel- sel tubuh (somatik) manusia berdeferensiasi menjadi organ tubuh yang khusus  misalnya hati, paru- paru, jantung, mata, telinga, dan sebagainya. Akan tetapi beberapa sel benih yang pokok (primodial germ cell) tetap tidak mengalami deferensiasi dan terletak di dalam gonad ketika gonad- gonad itu terbentuk.

Pada waktu pematangan alat kelamin, sel- sel benih yang terdapat di dalam testis disebut spermatogonia (tunggal= spermatogonium) dan pada ovarium disebut oogonia. Selanjutnya spermatogonia dan oogonia tersebut akan mengalami proses gametogenesis atau pembentukan sel- sel kelamin.

1.    Spermatogenesis


Pematangan sel- sel sperma terjadi di dalam tubula seminifer (seminifereous tubules). Beberapa spermatogonia (zn) tumbuh dan membesar menjadi spermatosit pertama. Pada pembelahan reduksi pertama, tiap- tiap spermatosis pertama membelah menghasilkan dua buah spermatosit kedua (ln). Melalui pembelahan reduksi kedua (pada hakekatnya merupakan pembelahan mitosis) masing- masing spermatosis kedua ini akan membelah dan membentuk dua buah spermatid (1n). Selanjutnya spermatid- spermatid tersebut akan mengalami perubahan bentuk (metamorfosis) menjadi sperma yang mempunyai bulu cambuk (flagellum) atau sering juga disebut sebagai ekor. Dengan demikian melalui dua kali pembelahan, dari satu spermatogonium akan dihasilkan empat buah sel sperma.

2.    Oogenesis


Proses oogenesis terjadi di dalam ovarium, sel- sel pada bagian folikel membungkus Oogonium. Oogonium yang kaya akan kuning telur ini selanjutnya akan menjadi oosit pertama.

Oosit primer ini akan dilepaskan ke dalam saluran telur (oviduct) yang selanjutnya akan mengalami pembelahan reproduksi pertama. Dari pembelahan reduksi pertama ini dihasilkan dua buah oosit kedua (1n) yang tidak sama beasrnya. Oosit yang satu besar, banyak mengandung kuning telur dan bersifat fertil (subur), sementara oosit yang satunya lagi kecil, yang hanya mengandung sedikit sitoplasma dan bersifat steril. Oosit yang kecil ini biasa disebut sebagai badan kutub (polar body).

Pada pembelahan reduksi kedua, oosit yang besar akan membelah lagi menjadi ootid (1n) dan badan kutub kedua (1n), sementara oosit yang kecil (polar body pertama) umumnya juga membelah menjadi dua buah kutub (1n) yang kecil dan steril. Ootid selanjutnya akan masak menjadi ovum atau telur yang siap dibuahi oleh sperma.

Dengan demikian, melalui dua kali pembelahan tiap- tiap Oogonium akan menghasilkan sebuah sel telur dan tiga buah badan kutub (polar body). Hal tersebut memungkinkan terkonsentrasinya makanan pada sebuah sel telur yang terbentuk.

 

 

 

3.    Fertilisasi


Fertilisasi merupakan proses peleburan inti gamet jantan dan inti gamet betina, sehingga terbentuk suatu individu baru dengan sifat genetik yang berasal dari kedua tetuanya.

Proses ini dapat dibagi menjadi empat aktivitas utama, yaitu:

  1. Hubungan (kontak) serta pengenalan sperma dan sel telur,
  2. Pengaturan pemasukan sperma ke dalam sel telur,
  3. Peleburan bahan genetik dari sperma ke dalam sel telur, dan
  4. Aktivitas metabolik telur untuk memulai perkembangan.

Peleburan tersebut merupakan percampuran karakteristik- karakteristik menurun, sifat- sifat paternal dan maternal sehingga dapat berkembang menjadi individu baru. Kejadian tersebut merupakan hal yang tidak mudah dipahami oleh karena sebuah molekulpun bila ukurannya besar jarang dapat masuk ke dalam sel. Sel telur yang dilapisi bukan saja oleh membran plasma tetapi oleh laipsan- lapisan lain, seharusnya dapat dalam suatu proses yang memerlukan waktu yang agak lama sebelum sperma dapat masuk. Oleh karena itu, sperma haruslah dapat menempel pada permukaan telur cukup lama sehingga reaksi penghancuran lapisan telur dapat terjadi melalui tahap- tahap berikut.

  1. Penetrasi sperma ke dalam ovum,
  2. Penyelesaian periode pemasakan ovum,
  3. Peleburan pronukleus gamet jantan dan betina,dan
  4. Amfimiksis kromosom- kromosom paternal dan maternal.

4.    Blastula


Banyak embrio berubah dari bulat padat (morula) atau tudung menjadi bola berongga yang disebut blastula. Perubahan ini diperlukan sebagai persiapan untuk perubahan- perubahan yang akan terjadi pada tahapan perkembangan selanjutnya. Bentuk blastula berbeda- beda pada berbagai spesies. Kebanyakan merupakan suatu bola dengan rongga di tengah sebagai rongga blastula. Blastula bentuk demikian dijumpai pada embrio telur- telur oligolestial. Pada embrio dengan yolk yang tersebar tidak merata seperti katak. Letak rongga blastula lebih ke arah kutub anima. Pada telur- telur dengan yolk sangat banyak sehingga embrio tumbuh sebagai suatu tudung di atas suatu massa yolk, seperti pada burung, ikan dan reptilia. Pada embrio rongga blastula dibentuk di bawah tudung.

Pada embrio dengan tipe sentrolesital dan pembelahan sumberficial sama sekali tidak dibentuk rongga blastula. Sel- sel berada pada bagian tepi embrio sedangkan bagian tengahnya berisi yolk.

Pada mamalia, hasil pembelahan berbentuk suatu bola padat (morula). Lapisan luar dari blastula ini membentuk lapisan yang mengelilingi embrio sebenarnya. Sedangkan embrio dibentuk dari bagian dalam morula (massa sel dalam). Lapisan luar (trofoblast) pada satu sisi massa sel dalam melepaskan diri membentuk suatu bentuk mirip suatu blastula dan disebut blastokista (blastocyst). Dalam dinding uterus, embrio akan mendapat makanan sampai dilahirkan.

Gastrulasi adalah proses yang dinamis, terjadi gerakan sel dari satu tempat ke tempat lain, menuju lokasi organ yang akan terbentuk. Dikenal gerakan epiboli yaitu gerakan di permukaan gastrula dan emboli (gerakan di dalam gastrula). Epiboli meliputi gerakan perluasan, pemanjangan epidermal, gerakan ke arah posterior, lateral dan ke anterior pada gastrula yang pipih, seperti gastrula ayam. Emboli meliputi konvergensi, devergensi, invaginasi, delaminasi, involusi, gerakan poliferasi sel, dan lain- lain.

Grastulasi merupakan proses terjadinya deferensial, oleh karena itu gen mulai berperan dalam menentukan jenis sel yang terbentuk kemudian. Pada tingkat ini terjadi sintesis yang terbentuk kemudian. Pada tingkat ini terjadi sintesis protein khusus yang bersifat struktural maupun fungsional. Pada tingkat blastula, hal itu belum terjad. Oleh karena itu, tingkat grastula disebut sebagai tingkat krisis. Tingkat grastula merupakan penentu dalam perkembangan. Embrio akan berkembang terus atau mati dalm tingkat ini. Bila ekspresi gen menurut ketata- teraturan pola perkembang yang terprogram akan berjalan terus. Bila tidak demikian maka terjadi penyimpangan atau abnormalitas, bisa juga terjadi pemberhentian atau mati.

Organ tubuh merupakan derivat dari lapis benih, ectoderm, mesoderm dan endoderm. Awal terbentuknya organ terjadi bakal yang terdiri dari satu atau dua lapis benih. Proses pembentukan organ tidak dapat berdiri sendiri, tetapi memerlukan induksi dan interaksi antar lapis benih. Sel- sel dalam calon organ mengalami poliferasi, deferensiasi, migrasi, tumbuh, dan berkembang.

5.    Organogenesis


Organogenesis meliputi proses menggulung membentuk saluran (tubulasi) seperti pada pembentukan bumbung neural dan saluran Mullery pada pembentukan saluran telur, melipat membentuk pematang seperti kantung Ratke dalam pembentukan hipofisse, pernafasan, pengeluaran, pencernaan dan anggota badan.

  1. Prinsip Perkembangan Normal
    Untuk menghasilkan suatu organisme lengkap yang di mulai dari zigot, perkembangan normalnya mencakup tumbuh dan diferensiasi yang berlangsung di bawah suatu kordinasi ketat dengan urutan yang tepat. Proses- proses yang berlangsung agar perkembangan berjalan dengan serasi tergantung pada dua pengaturan berikut.

  1. Genetik, menentukan kemampuan yang dibawa oleh organisme,
  2. Epigenetik, menjamin terlaksananya pembentukan primordia untuk kemudian menjadi organ definitif. Proses ini antara lain adalah:

  1. Regulasi, kemampuan membentuk kembali menjadi utuh.
  2. Gerakan sel, gastrulasi merupakan contoh yang baik, misalnya pembentukan tulang punggung.
  3. Diferensiasi, perubahan yang terjadi pada sel atau jaringan dalam perkembangan sehingga mempunyai ciri struktural dan fungsional yang khusus.
  4. Induksi, suatu interaki antara kelompok sel yang saling mempengaruhi.
  5. Regresi dan kematian sel, kematian sel sangat tampak jelas pad pembentukan anggota tubuh.



DAFTAR PUSTAKA


 

Aryulina, Diah, dkk. 2004. Biologi SMA Untuk Kelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Suwarno. 2009. Panduan Pembelajaran Biologi XI Untuk SMA& MA. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Yasbiati.  2013. Ilmu Pendidikan Alam 1. Edisi Pertama. Ciamis: Learning assistance Program for Islamic School (LAPIS) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).


0 komentar: