A. Reproduksi Sel
Pertumbuhan dan perkembangan organisme
tergantung pada kecepatan pertambahan dan pembesaran dari sel- sel individu itu
sendiri. Perkembangan dari organisme bersel banyak (multiselular) dimulai dari
zigot uniselular dicapai melalui pembelahan sel, pertumbuhan dan diferensiasi.
Reprodusksi seksual dan aseksual dari suatu organisme juga tergantung pada
pembelahan sel.
Pembelahan sel dapat dicapai melalui aktivitas
yang integral dari pembelahan inti (karyokenesis) dan pembelah sitoplasma
(sitokenesis). Biasanya pembelahan inti diikuti oleh pembelahan sitoplasma,
tetapi kadang- kadang pembelahan inti tidak dikuti oleh pembelahan sitoplasama.
Hal ini biasanya terjadi pada sel-sel berinti banyak (multinukleat).
Di dalam tumbuhan dan binatang diketahui ada
tiga tipe pembelahan sel, yaitu:
- Pembelahan secara langsung atau amitosis,
- Pembelahan tidak langsung atau mitosis, dan
- Pembelahan reduksi atau meiosis.
1. Amitosis
Amitosis atau pembelahan secara langsung merupakan
reproduksi vegetatif (aseksual= tak kawin)
yang umumnya terjadi pada organisme bersel satu seperti bakteri dan
protozoa. Selain itu juga merupakan cara perbanyakan diri pada beberapa
binatang bertulang belakang (vertebrata). Dalam pembelahan tipe ini terjadi di
penyempitan bagian tengah inti yang diikuti oleh sitoplasmanya. Selama
amitosis, mula- mula inti memanjang kemudian membentuk seperti dumbel (dump-
bell) yang akhirnya inti tersebut membelah menjadi dua bagian. Pembelahan
inti diikuti oleh pembelahan sitoplasma.
2. Mitosis
Sudah dikemukakan dalam teori
sel bahwa sel hanya akan ada dari sel-sel yang telah ada sebelumnya. Pembelahan
ini meliputi pembelahan inti dan pembelahan sitoplasmanya. Dalam mitosis,
penekanan pembahasan diutamakan pada tingkah laku inti selamanya terjadinya
proses pembelahan. Sel anak yang dihasilkan di dalam mitosis mempunyai bentuk,
ukuran dan struktur yang sama, bahkan lebih jauh lagi bahwa sel anak yang
dihasilkan memiliki sifaat-sifat yang sama dengan sel induknya. Secara garis
besar, sel-sel suatu individu yang melakukan pembelahan akan mengalami 2 fase
utama, yaitu interfase dan fase mitosis.
3. Interfase
Fase
istirahat antara 2 buah pembelahan sel disebut fase intermitosis atau
interfase. Dalam interfase tidak terjadi pembelahan kromosom atau sitoplasma. Inti dan sitoplasma tetap
melakukan aktivitas metabolisme secara aktif sehingga terjadi penambahan volume
inti maupun sitoplasma. Interfase merupakan fase yang terjadi paling lama dalam
siklus mitosis.
Dengan adanya aktivitas metabolisme pada
interfase ini maka penamaan fase istirahat (interfase) pada siklus mitosis
sering dikatakan kurang tepat. Jadi, penamaan interfase ini hanyalah
ditunjukkan pada inti yang kromosomnya tidak melakukan aktivitas pembelahan.
Fase Mitosis
Dalam mitosis terdapat beberapa fase atau
tingkat mitosis sebagai berikut.
- Profase, Peristiwa yang terjadi ketika profase adalah:
- Benang- benang kromatin memendek dan menebal yang selanjutnya disebut kromosom.
- Nukleous (anak inti) melebur.
- Tiap- tiap sentriol memisah ke arah kutub yang berlawanan dan benang- benang gelendong halus mulai terbentuk diantara kedua sentriol tersebut.
- Dinding inti mulai melebur, tetapi masih belum hilang sama sekali.
- Kromosom menduplikasi diri dan disebut kromatid.
- Metafase, Fase ini diawali dengan pro metafase yang memiliki ciri- ciri sebagai berikut:
- Dinding inti telah benar- benar melebur dan benang- benang gelendong meluas dari satu kutub ke kutub lainnya.
- Terdapat suatu daerah yang nyata di bagian tengah dan selanjutnya disebut bidang pembelahan atau ekuator.
- Kromatid bergerak menuju bidang pembelahan.
Pada metafasenya sendiri terjadi peristiwa-
peristiwa sebagai berikut:
- Tiap- tiap kromatid telah samapi pada bidang pembelahan dan saling menempel oleh suatu bagian yang disebut sentromer pada benang- benang kromosom dari gelendong.
- Terbentuk benang- benang antara kromatid yang disebut benang- benang interkromosom atau benang- benang interzonal.
- AnafaseFase ini dimulai dengan pemisahan kromatid pada sentromernya. Peristiwa yang terjadi pada metafase adalah:
- Sentromer dari masing- masing kromatid membelah menjadi dua.
- Kromatid dari bidang pembelahan memisah dan membentuk lagi dua buah kromosom.
- Kromosom bergerak menuju kutub yang berlawanan.
Fase Meiosis
Istilah Meiosis (Yunani, meioum= mengurangi)
dikemukakan oleh J.B Farmer pada tahun 1905. Pembelahan reduksi ini merupakan
proses yang sangat penting bagi suatu organisme karena dihasilkannya gamet
haploid pada waktu terjadinya pembelahan sel- sel kelamin.
Dengan adanya reduksi (pengurangan) jumlah
kromosom pada sel- sel benih (germ cell) yang diploid (2n) menjadi sel kelamin (gamet) haploid (n),
maka pembelahan reduksi ini menjaga kestabilan jumlah kromosom dalam spesies.
Dengan demikian pembelahan reduksi merupakan pergiliran dari keturunan haploid
dan keturunan diploid pada tumbuhan dan binatang.
Dalam kata lain pembelahan reduksi menjaga
keteraturan siklus reproduksi pada reproduksi seksual suatu organisme. Sebagi
contoh siklus reproduksi tumbuhan lumut, meliputi keturunan haploid yang lama
dan keturunan diploid yang sebentar. Zigot dari tumbuhan lumut ini akan
mengalami pembelahan reduksi pada waktu pembentukan spora.
Dalam proses pembelahan reduksi, kromosom
membelah atau menduplikasi satu kali, sedangkan inti dan sitoplasmanya membelah
dua kali. Oleh karena itu, pada pembelahan reduksi dari satu sel akan
dihasilkan empat buah sel yang haploid.
B. Reproduksi Tumbuhan
Reproduksi atau perkembangbiakan adalah proses yang
dilakukan oleh makhluk hidup dengan cara memperbanyak atau menduplikasikan
jenisnya. Reproduksi dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu reproduksi
vegetatif (aseksual= tidak kawin) dan reproduksi generatif (seksual= kawin).
1. Reproduksi Vegetatif
Perkembangan suatu individu tanpa melalui persatuan sel
kelamin (gamet) jantan dan sel kelamin betina disebut reproduksi vegetatif.
Reproduksi vegetatif ini biasanya meliputi pembelahan amitosis atau mitosis
sel- sel tubuhnya (somatik). Oleh karena itu dikenal pula sebagai pembelahan
somatogenetik atau pembelahan blastogenetik. Reproduksi vegetatif biasanya
dilakukan oleh tumbuhan dan binatang tingkat rendah. Reproduksi vegetatif ini
dapat dibedakan menjadi beberapa tipe, yaitu pembelahan, pembentukan tunas,
pembentukan gemule dan regenerasi.
- PembelahanPembelahan merupakan reproduksi vegetatif yang umumnya terjadi pada golongan protozoa dan beberapa jenis metazoa. Pada pembelahan ini, inti dan isi sitoplasma dari sel yang membelah akan melakukan penyempitan yang akhirnya membelah sempurna menjadi individu anak yang berukuran lebih kecl.Pembelahan sendiri dapat dibedakan menjadi beberapa tipe berikut:
- Pembelahan menjadi dua (Binary Fassion)Tubuh suatu organisme akan menyempit dan membelah pada suatu tempat (biasanya di bagian tengah) menghasilkan dua buah individu anak yang sama dan identik. Pembelahn jenis ini banyak ditemukan pada golongan protozoa, tetapi juga kadang- kadang didapatkan pada metozoa tingkat rendah.Berdasarkan keadaan cara membelahnya, binary fassion dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu:
- Pembelahan sederhana atau ortodoks. Pembelahan ini terjadi pada organisme yang tubuhnya tidak teratur, misalnya Amoeba sp.
- Pembelahan secara melintang (transversal). Pembelahan jenis ini dilakukan oleh beberapa protozoa seperti Paramecium dan beberapa metozoa seperti coelentrata tertentu, Tubellaria dan Annelida. Pada pembelahan ini, arah pembelahannya selalu melintang terhadap sumbu memanjang dari tubuh organisme.
- Pembelahan secara membujur/ longitudinal. Pembelahan jenis ini terjadi pada Vorticella dan Euglena. Pada pembelahan ini inti dan sitoplasma membelah kea rah membujur.
- Pembelahan secara miring. Pembelahan ini terjadi pada kebanyakan Dinoflagellata. pada tipe ini sel atau tubuh suatu organisme membelah melalui pembelahan secara melintang.
- Strobilasi. Pada metazoa tertentu, tipe khusus dari pembelahan melintangnya dikenal sebagai strobilasi. Pada prosese srobilasi ini, beberapa pembelahan melintang terjadi secara serentak (simultan) dan menghasilkan sejumlah individu. Individu- individu yang dihasilkan tersebut sering tidak terpisah dari induknya sehingga merupakan kumpulan individu yang saling menempel. Misalnya pada acing pita, Aurellia dan Polychaeeta tertentu.
- Pembelahan berkali- kali (multiple fission). Pafa pembelahan tipe ini, inti sel membelah sangat cepat menjadi beberapa buah inti. Tiap- tiap anak inti selanjutnya dikelilingi oleh sitoplasma untuk selanjutnya melakukan reproduksi vegetative, misalnya Schyzogony pada Plasmodium, pembentukan spora, dll. Pembelahan ini terjadi pada kebanyakan algae (ganggang), jamur dan beberapa protozoa seperti Amoeba sp.
- Pembentukan tunas atau gemmaPada hewan bersel banyak (multiselular) seperti Hydra dan Tunicata tertentu, tubuhnya dapat menghasilkan tubuh baru yang kecil yang disebut tunas (bud). Proses perkembangan dari tunas sampai menjadi dewasa disebut blastogenesis. Perkembangan tubuh individu baru tersebut mengambil makanan dari tubuh induknya, dan setelah cukup matang dia akan melepaskan diri dari tubuh induknya dan tumbuh menjadi individu baru. Pada tumbuhan, pembentukan gemma dapat saudara temukan pada Marchantia yang termasuk ke dalam lumut hati.
- Pembentukan gemmulePada metozoa tertentu reproduksi vegetatif dilakukan oleh bagian tubuh vegetatif khusus yang disebut gemmule dan statoblast. Gemmule terdapat pada sponge air tawar dan statoblast terdapat pada bryozoa.Gemmule dan statoblast disusun ileh sekelompok yang berisi cadangan makanan. Sel- sel ini pada gemmule dilindungi atau ditutupi oleh duri bentuk monakson dan padastatoblast ditutupi oleh kitin. Bila tubuh induknya mengalami kerusakan maka gemmule atau statoblast dapat bebas atau keluar dari tubuh induknya dan tumbuh menjadi individu baru pada kndisi lingkungan yang cocok.
- RegenerasiRegenerasi adalah proses penumbuhan kembali bagian- bagian tubuh yang rusak atau hilang. Reproduksi melalui regenerasi ini terdapat pada beberapa protozoa, porifera (sponge), coelentrata, planaria dan enchinodermata.
2. Reproduksi generatif
Pada reproduksi generatif perkembangan individu baru
tejadi melalui persatuan sel- sel kelamin (gamet) jantan dan betina. Reproduksi
generatif ini merupakan tipe reproduksi yang paling umum dilakukan oleh
tumbuhan dan binatang. Beberapa tipe reproduksi generatif diantaranya adalah
sebaggai berikut.
- Singami (syngami)Singami merupakan tipe yang paling umum dalam tumbuhan dan binatang. Dalam singami (Yunani, syn= bersama- sama dan gam= kawin) persatuan antara dua buah gamet terjadi secara sempurna dan permanen.
- AutogamiDalam autogami (Yunani, auto= seendiri, gam= kawin) gamet jantan dan gamet betina dihasilkan oleh organisme atau sel yang sama. Untuk selanjutnya kedua gamet tersebut bersatu membentuk zigot, misalnya pada Paramecium aurelia.
- EksogamiDalam eksogami (Yunani, Exo= luar, gam= kawin) gamet jantan dan gamet betina dihasilkan oleh induk yang berbeda. Eksogami ini merupakan tipe yang paling umum terdapat pada tumbuhan dan binatang.
- HologamiTerjadi pada organisme tingkat rendah, kadang- kadang seluruh organisme yang telah masak bertindak sebagai gamet. Persatuan dari individu yang berfungsi sebagai gamet ini dikenal sebagai hologami.
- IsogamiDalam isogami (Yunani, Is= sama, gam= kawin) gamet yang bersatu mempunyai bentuk, struktur dan fisiologi yang sama mislanya pada Chlamydomonas dan Ulothrix.
- AnisogamiBeberapa organisme menghasilkan dua buah tipe gamet yang berbeda. Kedua tipe gamet tersebut berbeda antara satu sama lain di dalam bentuk, ukuran dan tngkah lakunya. Gamet jantan kecil dan dapat bergerak disebut mikrogamet. Gamet betina pasif dan mempunyai ukuran lebih besar dibandingkan dengan gamet jantannya disebut makrogamet. Persatuan dari kedua tipe gamet itulah yang disebut anisogami atau heterogami.
- KonyugasiKonyugasi merupakan perkawinan antara dua buah individu sejenis yang belum dapat dibedakan jantan dan betinanya. Individu yang melakukan konyugasi tersebut dinamakan konyugan. Selama melakukan konyugasi terjadi pertumbuhan materi- materi inti, untuk selanjutnya kedua individu tersebut melakukan pemisahan kembali dan membelah secara mitosis, misalnya pada Paramecium sp. Akan tetapi konyugasi yang terjadi para Spirogyra sp, salah satu isi sel dari Spirogyra tersebut berpindah seluruhnya pada sel Spirogyra yang lainnya melalui saluran yang dibuat oleh kedua sel Spirogyra tersebut.
- PartenogenesisParterogenesis merupakan tipe khusus dari reproduksi generatif. Dalam partenogenesis, sel telur dari suatu organisme berkembang menjadi individu muda tanpa dibuahi oleh sperma. Partenogenesis terjadi pada insekta (serangga tertentu misalnya ktu daun dan lebah, dan Rotifera).
- AutomiksisAutomiksis adalah bila inti gamet dari sel yang sama bersatu membentuk individu yang baru.
C. Reproduksi Hewan
Proses pembentukan sel- sel kelamin atau gamet
disebut gametogenesis. Gametogenesis pada mamalia khususnya manusia meliputi
pembentukan sel- sel sperma yang disebut spermatogenesis, dan pembentukan sel-
sel telur atau ovum yang disebut oogenesis.
Dalam perkembangannya, sel- sel tubuh
(somatik) manusia berdeferensiasi menjadi organ tubuh yang khusus misalnya hati, paru- paru, jantung, mata,
telinga, dan sebagainya. Akan tetapi beberapa sel benih yang pokok (primodial
germ cell) tetap tidak mengalami deferensiasi dan terletak di dalam gonad
ketika gonad- gonad itu terbentuk.
Pada waktu pematangan alat kelamin, sel- sel benih yang
terdapat di dalam testis disebut spermatogonia (tunggal= spermatogonium) dan
pada ovarium disebut oogonia. Selanjutnya spermatogonia dan oogonia tersebut
akan mengalami proses gametogenesis atau pembentukan sel- sel kelamin.
1. Spermatogenesis
Pematangan sel- sel sperma terjadi di dalam tubula
seminifer (seminifereous tubules). Beberapa spermatogonia (zn) tumbuh dan
membesar menjadi spermatosit pertama. Pada pembelahan reduksi pertama, tiap-
tiap spermatosis pertama membelah menghasilkan dua buah spermatosit kedua (ln).
Melalui pembelahan reduksi kedua (pada hakekatnya merupakan pembelahan mitosis)
masing- masing spermatosis kedua ini akan membelah dan membentuk dua buah
spermatid (1n). Selanjutnya spermatid- spermatid tersebut akan mengalami
perubahan bentuk (metamorfosis) menjadi sperma yang mempunyai bulu cambuk
(flagellum) atau sering juga disebut sebagai ekor. Dengan demikian melalui dua
kali pembelahan, dari satu spermatogonium akan dihasilkan empat buah sel
sperma.
2. Oogenesis
Proses oogenesis terjadi di dalam ovarium, sel- sel pada
bagian folikel membungkus Oogonium. Oogonium yang kaya akan kuning telur ini
selanjutnya akan menjadi oosit pertama.
Oosit primer ini akan dilepaskan ke dalam
saluran telur (oviduct) yang selanjutnya akan mengalami pembelahan reproduksi
pertama. Dari pembelahan reduksi pertama ini dihasilkan dua buah oosit kedua
(1n) yang tidak sama beasrnya. Oosit yang satu besar, banyak mengandung kuning
telur dan bersifat fertil (subur), sementara oosit yang satunya lagi kecil,
yang hanya mengandung sedikit sitoplasma dan bersifat steril. Oosit yang kecil
ini biasa disebut sebagai badan kutub (polar body).
Pada pembelahan reduksi kedua, oosit yang besar
akan membelah lagi menjadi ootid (1n) dan badan kutub kedua (1n), sementara
oosit yang kecil (polar body pertama) umumnya juga membelah menjadi dua buah
kutub (1n) yang kecil dan steril. Ootid selanjutnya akan masak menjadi ovum atau
telur yang siap dibuahi oleh sperma.
Dengan demikian, melalui dua kali pembelahan
tiap- tiap Oogonium akan menghasilkan sebuah sel telur dan tiga buah badan
kutub (polar body). Hal tersebut memungkinkan terkonsentrasinya makanan pada
sebuah sel telur yang terbentuk.
3. Fertilisasi
Fertilisasi merupakan proses peleburan inti gamet jantan
dan inti gamet betina, sehingga terbentuk suatu individu baru dengan sifat
genetik yang berasal dari kedua tetuanya.
Proses ini dapat dibagi menjadi empat
aktivitas utama, yaitu:
- Hubungan (kontak) serta pengenalan sperma dan sel telur,
- Pengaturan pemasukan sperma ke dalam sel telur,
- Peleburan bahan genetik dari sperma ke dalam sel telur, dan
- Aktivitas metabolik telur untuk memulai perkembangan.
Peleburan tersebut merupakan percampuran karakteristik-
karakteristik menurun, sifat- sifat paternal dan maternal sehingga dapat
berkembang menjadi individu baru. Kejadian tersebut merupakan hal yang tidak
mudah dipahami oleh karena sebuah molekulpun bila ukurannya besar jarang dapat
masuk ke dalam sel. Sel telur yang dilapisi bukan saja oleh membran plasma
tetapi oleh laipsan- lapisan lain, seharusnya dapat dalam suatu proses yang
memerlukan waktu yang agak lama sebelum sperma dapat masuk. Oleh karena itu,
sperma haruslah dapat menempel pada permukaan telur cukup lama sehingga reaksi
penghancuran lapisan telur dapat terjadi melalui tahap- tahap berikut.
- Penetrasi sperma ke dalam ovum,
- Penyelesaian periode pemasakan ovum,
- Peleburan pronukleus gamet jantan dan betina,dan
- Amfimiksis kromosom- kromosom paternal dan maternal.
4. Blastula
Banyak embrio berubah dari bulat padat (morula) atau
tudung menjadi bola berongga yang disebut blastula. Perubahan ini diperlukan
sebagai persiapan untuk perubahan- perubahan yang akan terjadi pada tahapan
perkembangan selanjutnya. Bentuk blastula berbeda- beda pada berbagai spesies.
Kebanyakan merupakan suatu bola dengan rongga di tengah sebagai rongga
blastula. Blastula bentuk demikian dijumpai pada embrio telur- telur
oligolestial. Pada embrio dengan yolk yang tersebar tidak merata seperti katak.
Letak rongga blastula lebih ke arah kutub anima. Pada telur- telur dengan yolk
sangat banyak sehingga embrio tumbuh sebagai suatu tudung di atas suatu massa
yolk, seperti pada burung, ikan dan reptilia. Pada embrio rongga blastula
dibentuk di bawah tudung.
Pada embrio dengan tipe sentrolesital dan
pembelahan sumberficial sama sekali tidak dibentuk rongga blastula. Sel- sel
berada pada bagian tepi embrio sedangkan bagian tengahnya berisi yolk.
Pada mamalia, hasil pembelahan berbentuk suatu
bola padat (morula). Lapisan luar dari blastula ini membentuk lapisan yang
mengelilingi embrio sebenarnya. Sedangkan embrio dibentuk dari bagian dalam
morula (massa sel dalam). Lapisan luar (trofoblast) pada satu sisi massa sel
dalam melepaskan diri membentuk suatu bentuk mirip suatu blastula dan disebut
blastokista (blastocyst). Dalam dinding uterus, embrio akan mendapat makanan
sampai dilahirkan.
Gastrulasi adalah proses yang dinamis, terjadi
gerakan sel dari satu tempat ke tempat lain, menuju lokasi organ yang akan
terbentuk. Dikenal gerakan epiboli yaitu gerakan di permukaan gastrula dan
emboli (gerakan di dalam gastrula). Epiboli meliputi gerakan perluasan,
pemanjangan epidermal, gerakan ke arah posterior, lateral dan ke anterior pada
gastrula yang pipih, seperti gastrula ayam. Emboli meliputi konvergensi,
devergensi, invaginasi, delaminasi, involusi, gerakan poliferasi sel, dan lain-
lain.
Grastulasi merupakan proses terjadinya deferensial, oleh karena itu
gen mulai berperan dalam menentukan jenis sel yang terbentuk kemudian. Pada tingkat ini
terjadi sintesis yang terbentuk kemudian. Pada tingkat ini terjadi sintesis
protein khusus yang bersifat struktural maupun fungsional. Pada tingkat
blastula, hal itu belum terjad. Oleh karena itu, tingkat grastula disebut
sebagai tingkat krisis. Tingkat grastula merupakan penentu dalam perkembangan.
Embrio akan berkembang terus atau mati dalm tingkat ini. Bila ekspresi gen
menurut ketata- teraturan pola perkembang yang terprogram akan berjalan terus.
Bila tidak demikian maka terjadi penyimpangan atau abnormalitas, bisa juga
terjadi pemberhentian atau mati.
Organ tubuh merupakan derivat dari lapis benih, ectoderm,
mesoderm dan endoderm. Awal terbentuknya organ terjadi bakal yang terdiri dari
satu atau dua lapis benih. Proses pembentukan organ tidak dapat berdiri
sendiri, tetapi memerlukan induksi dan interaksi antar lapis benih. Sel- sel
dalam calon organ mengalami poliferasi, deferensiasi, migrasi, tumbuh, dan
berkembang.
5. Organogenesis
Organogenesis meliputi proses menggulung membentuk
saluran (tubulasi) seperti pada pembentukan bumbung neural dan saluran Mullery
pada pembentukan saluran telur, melipat membentuk pematang seperti kantung
Ratke dalam pembentukan hipofisse, pernafasan, pengeluaran, pencernaan dan
anggota badan.
- Prinsip Perkembangan NormalUntuk menghasilkan suatu organisme lengkap yang di mulai dari zigot, perkembangan normalnya mencakup tumbuh dan diferensiasi yang berlangsung di bawah suatu kordinasi ketat dengan urutan yang tepat. Proses- proses yang berlangsung agar perkembangan berjalan dengan serasi tergantung pada dua pengaturan berikut.
- Genetik, menentukan kemampuan yang dibawa oleh organisme,
- Epigenetik, menjamin terlaksananya pembentukan primordia untuk kemudian menjadi organ definitif. Proses ini antara lain adalah:
- Regulasi, kemampuan membentuk kembali menjadi utuh.
- Gerakan sel, gastrulasi merupakan contoh yang baik, misalnya pembentukan tulang punggung.
- Diferensiasi, perubahan yang terjadi pada sel atau jaringan dalam perkembangan sehingga mempunyai ciri struktural dan fungsional yang khusus.
- Induksi, suatu interaki antara kelompok sel yang saling mempengaruhi.
- Regresi dan kematian sel, kematian sel sangat tampak jelas pad pembentukan anggota tubuh.
DAFTAR PUSTAKA
Aryulina, Diah, dkk. 2004. Biologi SMA Untuk Kelas X. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Suwarno. 2009. Panduan Pembelajaran Biologi XI Untuk SMA&
MA. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Yasbiati. 2013. Ilmu Pendidikan Alam 1. Edisi
Pertama. Ciamis: Learning assistance Program for Islamic School (LAPIS)
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).


0 komentar:
Posting Komentar